A.SENI
Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu
merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam
intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk
dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis
memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya,
masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih
medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu
set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan
ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan,
sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu.
Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain
masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap
gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang
bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).
B.APRESIASI SENI
Kata “apresiasi” berarti penghargaan (penilaian) terhadap sesuatu,
apresiasi karya kerajinan tangan dan kesenian dapat diartikan sebagai
suatu kemampuan untuk memahami, mengerti, menikmati keindahan suatu
karya seni dan dapat memberikan penilaian secara mendalam terhadap karya
seni yang diamati.
Tujuan untuk mengembangkan kreasi, rasa estetis dan penyempurnaan hidup.
Apresiasi kerajinan tangan dan kesenian perlu diadakan dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas karya seni dan penyelenggaraan pergelaran
dan pameran. Dalam mengapresiasi karya perlu kriteria-kriteria karya
seni yang berbobot, sehingga hasil karya seni yang keluar mempunyai
kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Agar dapat menilai, menghargai suatu karya maka pengamat haruslah memahami beberapa masalah di antaranya :
a. Jenis karyanya
b. Jenis media yang digunakan
c. Karya seni tersebut beraliran (paham atau panduan)
d. Karya seni diciptakan dengan tujuan
Selain itu ada beberapa nilai yang harus diperhatikan yaitu
a. Nilai penginderaan (apresiasi empatik)
b. Nilai perasaan (apresiasi estetis)
c. Nilai pengamatan (apresiasi kritis)
Ketiga hal di atas memiliki penilaian dari sudut pandang yang berlainan
dan memiliki tingkatan yang berbeda dalam memberi penilaian.
Beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai bahan apresiasi dalam seni lukis adalah sebagai berikut :
a. tema
b. bahan
c. komposisi
d. kemiripan
e. penyelesaian
C.ESTETIKA
Estetika muncul pertama kali pada pertengahan abad ke-18, melalui
seorang filsuf Jerman, Alexander Baumgarten. Sang filsuf memaksudkan
estetika sebagai ranah pengetahuan sensoris, pengetahuan rasa yang
berbeda dari pengetahuan logika, sebelum akhirnya ia sampai kepada
penggunaan istilah tersebut dalam kaitan dengan persepsi atas rasa
keindahan, khususnya keindahan karya seni. (Estetika berasal dari kata
aistheton atau aisthetikos, Yunani Kuno, yang berarti persepsi atau
kemampuan mencerap sesuatu secara indrawi). Emmanuel Kant melanjutkan
penggunaan istilah tersebut dengan menerapkannya untuk menilai keindahan
baik yang terdapat dalam karya seni maupun dalam alam. Seiring
perjalanan waktu, konsep estetika kemudian berkembang lebih luas.
Estetika bukan melulu kualifikasi atas penilaian-penilaian atau
evaluasi-evaluasi belaka, melainkan pula menyangkut penelusuran
sifat-sifat dan manfaat/kegunaan, ragam penyikapan,
pengalaman-pengalaman, dan penikmatan atas nilai-nilai keindahan
tersebut. Bahkan kemudian penerapannya tidak lagi dibatasi oleh bingkai
konsepsi keindahan semata-mata. Domain estetika menjadi jauh lebih luas
ketimbang sekadar penikmatan karya-karya seni secara estetik sekalipun.
D.SENI PRIMITIF
Seni primitif berkembang pada zaman prasejarah, dengan tingkat kehidupan
manusia pada masanya sangat sederhana sekali dan sekaligus merupakan
ciri utama, sehingga manusianya disebut orang primitif. Hal ini
berpengaruh dalam kebudayaan yang mereka hasilkan. Mereka menghuni
goa-goa, hidup berpindah-pindah (nomaden) dan pekerjaan berburu
binatang. Di bidang kesenian, karya seni yang dihasilkan juga sangat
sederhana, namun memiliki nilai tinggi sebagai ungkapan ekspresi mereka.
Peninggalan karya seni yang dihasilkan berupa lukisan binatang buruan,
lukisan cap-cap tangan yang terdapat pada dinding goa, seperti pada
dinding goa Leang-leang di Sulawesi Selatan, goa-goa di Irian Jaya, dan
pada dinding goa Almira Spanyol. Selain karya lukisan, terdapat juga
hiasan-hiasan pada alat-alat perburuan mereka yang berupa
goresan-goresan sederhana. Karya seni yang dihasilkan hanya merupakan
ekspresi perasaan mereka terhadap dunia misterius atau alam gaib yang
merupakan simbolis dari perasaan-perasaan tertentu, seperti perasaan
takut, senang dan perdamaian. Ciri-ciri lain dari seni premitif yaitu
goresannya spontannitas, tanpa perspektif, dan warna-warnanya terbatas
pada warna merah, coklat, hitam, dan putih.
E.SENI DEKORASI / INTERIOR / EKSTERIOR
Seni dekorasi adalah seni menghias (bahasa Inggris to decorate) yang
berart nenghias. Sesuai dengan arti katanya maka seni dekorasi digunakan
untuk menghias sesuatu agar tampak harmonis.
Yang termasuk seni dekorasi dua dimensi antara lain adalah,
1.Motif hias,
Jenis hiasan yang digunakan sebagai hiasan-hiasan tertentu.
motif hias geometris.-==.I aw
2. seni lukis hias
Seni lukis yang dipergunakan untuk mendekorasi suatu ruangan . seperti ruangan rumah, kantor, wisma, hotel dsb.
F.SENI KLASIK
Seni lukis zaman klasik kebanyakan dimaksudkan untuk tujuan:
Mistisme (sebagai akibat belum berkembangnya agama)
Propaganda (sebagai contoh grafiti di reruntuhan kota Pompeii),
Di zaman ini lukisan dimaksudkan untuk meniru semirip mungkin
bentuk-bentuk yang ada di alam. Hal ini sebagai akibat berkembangnya
ilmu pengetahuan dan dimulainya kesadaran bahwa seni lukis mampu
berkomunikasi lebih baik daripada kata-kata dalam banyak hal. Selain
itu, kemampuan manusia untuk menetap secara sempurna telah memberikan
kesadaran pentingnya keindahan di dalam perkembangan peradaban.
G.REKLAME
Reklame berasal dari bahasa Latin reclamare, yang berartseruan yang berulang-ulang. Reklame terdiri dari beberapa jenis.
Ditinjau dari media yang digunakan, reklame dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
1.Reklame Visual
Reklame visual adalah seruan berulang-ulang yang menitikberatkan aspek
visual (penglihatan) dalam penyampaiannya. Artinya, reklame tersebut
terutama bertujuan untuk dilihat. Dalam perkembangannya, reklame visual
ini memiliki beberapa bentuk. Hal ini tentu disesuaikan dengan kebutuhan
yang ungin dipenuhi.
a.Poster
Poster adalah reklame berbentuk gambar dan tulisan yang dibuat di atas
selembar kertas lebar. Poster biasnya ditempel di tempat-tempat umum dan
mudah dilihat orang.
b.Selebaran
Selebaran dlh reklame yang berbentuk gmbar dan tulisan pada lembaran
kertas. Lembaran-lembaran ini biasnya disebarkan langsung kepada calon
konsumen oleh petugas khusus dengan cara menebarkan dari mobil.
c.Buklet
Buklet adalah reklame yang dibuat menyerupai buku dengan jumlah halaman
lebih dari dua lembar. Buklet dapat pula berupa lembaran panjang yang
dapat dilipat-lipat menyerupai buku.
d.Embalase
Embalase dalah reklame yang terdapat pada kemasan (monster) benda yang
diperdagangkan. Dengan kt lain, bungkus suatu produk mempunyai dua
fungsi sekaligus. Pertama, sebagai kemasan produk itu sendiri. Kedua,
sebagai daya penarik (reklame) kepada konsumen.
e.Mobile
Mobile adalah reklame yang digantungkan.
f.Etalase
Etalase adalah reklame tiga dimensi yang diletakkan di bagian depan took atau di pinggir-pinggir jalan.
g.Iklan
Iklan adalah reklame yang dipasang di media cetak seperti Koran, majalah, tabloid dan sebagainya
h.Spanduk
Spanduk adalah reklame yang dibuat pada selembar kain.
2.Reklame Audio
Reklame audio adalah seruan berulang-ulang yang menggunakan suara sebagai alat penyebarannya.
3.Reklame Audio-Visual
Reklame Audio visual adalh serum berulang-ulang yang menitikberatkan aspek suara dan rupa sebagai alat penyampaian.
Sedangkan ditinjau dari sifat dan tujuannya, reklame dapt dikelompokkan atas 2 jenis:
1. Reklame Komersial
Reklame Komersial adalah seruan berulang-ulang yang semata-mata
bertujuan untuk menjaring konsumen sebanyak-banyaknya, dan keuntungan
material sebesar-besarnya. Karena sifatnya yang mengutamakan keuntungan
material, reklame ini sering berlebihan dalam menyampaikan informasi.
2.Reklame Nonkomersial
Reklame Nonkomersial adalah seruan berulang-ulang yang digunakan bukan
untuk mengeruk keunyungan material sebesar-besarnya. Reklame ini lazim
digunakan untuk mempengaruhi perilaku, tata nilai, dan merangsang
terciptanya suatu kondisi tertentu, dan sebagainya.
H.ART GALERI
Galeri Seni Rupa adalah suatu wadah seni bagi para seniman maupun bagi
masyarakat. Galeri disini tidak hanya sekedar berfungsi sebagai ruang
pamer karya seni dari para seniman, tetapi juga sebagai ruang apresiasi
bagi seni dan publik (masyarakat).
Keberadaan Galeri dewasa ini semakin berkembang dengan adanya tuntutan
dari masyarakat berupa pemberian layanan bagi masyarakat dalam bidang
seni yang dapat ditampung dalam suatu bangunan yakni Galeri Seni Rupa.
Perancangan Galeri Seni Rupa dengan penerapan prinsip Green Architecture
pada bangunan dan lingkungan diharapkan dapat mendukung fungsi dari
bangunan galeri itu sendiri. Salah satu unsur yang penting dari bangunan
ini adalah sebuah wadah yang dapat memberikan fasilitas baik luar
maupun dalam bangunan yang menerapkan prinsip penghawaan dan pencahayaan
alami sehingga dapat mengestimasi dari pengeluaran keseluruhan dari
biaya serta peletakan tata vegetasi yang merespon iklim setempat.
Pengadaan vegetasi-vegetasi sebagai “oase” pada site sebagai filter dari
keberadaan site pada kawasan tengah kota.
Aplikasi desain di antaranya adalah penyebaran taman-taman di sekeliling
bangunan dapat menjadi pemandangan tersendiri bagi tiap pelaku yang
datang dan melakukan aktivitas di dalam bangunan pada site ini.
Pengolahan pola-pola vegetasi, perkerasan, pemakaian elemen air,
material terbentuk dari perpaduan antara garis bangunan, garis batas
site, dan garis dari pola paving di area utama.
I.GAMBAR PERSPEKTIF
Semua sistem perspektif berpangkal pada dua metode dasar, yaitu gambar
bebas tangan (free hand) dan gambar terukur. Gambar perspektif terukur
dipakai untuk mengartikan suatu bentuk benda atau objek dengan akurat.
Untuk metode ini dipergunakan alat-alat gambar, dan skala-skala ukuran
diambil langsung dari gambar rencana. Gambar bebas tangan dipakai untuk
memberikan penjelasan (detail) sebuah gambar. Kedudukan-kedudukan objek
didapat dari suatu kombinasi kerja tebak (sistem kira-kira) dan
konstruksi dengan perkiraan yang hampir tepat. Di sini tidak dibutuhkan
ukuran yang pasti dan tepat.
Perspektif Satu Titik Hilang
Perspektif satu titik hilang merupakan cara menggambar perspektif yang
paling mudah, karena keseluruhan objek pada bidang gambar dapat diukur
dengan skala. Walaupun cara ini yang termudah, gambar perspektif satu
titik hilang dapat terlihat alami namun juga sangat mudah terdistorsi.
Konstruksi perspektif satu titik hilang didasari oleh kenyataan bahwa
garis vertikal digambarkan secara vertikal, garis horisontal
digambarkan secara horisontal, dan hanya garis-garis yang menunjukkan
kedalaman perspektif yang bertemu pada satu titik hilang (kecuali
garis-garis melintang yang memiliki sudut selain 0o dan 90o terhadap
garis normal/cakrawala).
Perspektif satu titik hilang menggambarkan sebuah objek dengan satu
titik pedoman yang menghubungkan dengan bidang gambar. Metode ini
menggunakan hanya satu titik hilang di mana semua garis perspektif
tersebut akan tertuju, serta satu titik ukur yang berperan pula sebagai
titik diagonal (lihat gambar).
Gambar perspektif satu titik hilang sangat membantu dalam proses awal
dan pengembangan gagasan sebuah desain, namun jarang sekali digunakan
para desainer untuk presentasi akhir sebuah desain.
Perspektif Satu Titik Metode Garis Tanah
Metode garis tanah banyak digunakan karena relatif paling praktis dan
garis-garis konstruksinya sederhana. Akan tetapi metode ini terbatas
penggunaannya untuk ruangan geometris sederhana berbentuk kotak dengan
arah pandangan harus selalu frontal (tegak lurus) terhadap salah satu
bidang dinding datar dalam ruangan
Metode ini menggunakan perpanjangan garis tanah sebagai garis ukur untuk
menerapkan ukuran-ukuran sebenarnya yang sejajar dengan garis sumbu
pandangan.
Bidang A.B.B1.A1 (salah satu dinding ruangan) yang mendasari gambar perspektif ruangan.
Pada perpanjangan garis tanah (ke kiri maupun ke kanan) garis BD diukurkan (dalam gambar = B’D1).
Dari titik D1 ditarik garis yang tgak lurus terhadap garis B’D’ dan
perpanjangan garis ini memotong garis horison pada titik TU yang
berfungsi sebagai titik ukur bagi semua ukuran kedalaman lainnya.
2. Perspektif Dua Titik Hilang
Perspektif dua titik hilang menggambarkan objek dengan menggunakan dua
titik hilang yang terletak berjauhan di sebelah kanan dan kiri pada
garis cakrawala. Perspektif dua titik hilang memberikan kesempatan untuk
menggambarkan sudut terdekat atau terjauh dari sebuah objek atau
ruangan. Dalam perspektif dua titik hilang, sudut ruangan atau tepi
sebuah objek digambar terlebih dahulu dan dapat digunakan sebagai skala
secara horisontal dan vertikal, untuk kemudian ditarik garis dari titik
hilang.
Seperti dalam perspektif satu titik hilang, garis cakrawala
digambarkan secara horisontal dan ditentukan oleh tinggi mata pengamat.
Berbeda dari garis cakrawala dan elemen-elemen yang terletak di garis
cakrawala, tidak ada garis horisontal yang ditemukan pada perspektif dua
titik hilang – kecuali pada objek-objek yang memiliki kemiringan 45o,
semua garis yang secara nyata terlihat sejajar horisontal akan terlihat
miring menuju ke dua titik hilang.
Hanya ada satu garis horisontal dan vertikal yang digunakan sebagai
skala pengukuran, yaitu garis horisontal dan vertikal pada sudut
terdekat atau terjauh dari objek tersebut (dianjurkan menggunakan garis
pada sudut terjauh dari objek tersebut).
Perspektif dua titik hilang sangat sulit untuk digambar secara terukur.
Bagaimanapun, perspektif dua titik hilang menampilkan gambar yang
terlihat lebih alami dengan sedikit distorsi dibanding metode perspektif
yang lainnya.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Titik Ukur
Garis AB merupakan garis batas pandangan terhadap ruangan yang akan
digambar. Letak dan posisinya ditentukan sendiri sesuai dengan
kebutuhan.
Titik mata M dan tinggi cakrawala diatas garis tanah juga ditentukan
sendiri. Dari titik M ditarik dua garis lurus yang membentuk sudut
siku-siku (saling tegak lurus), kedua garis memotong garis cakrawala
pada dua titik hilang (H3 dan H4) dengan letak yang juga ditentukan
sendiri. Titik U1 dan U2 berfungsi sebagai titik ukur.
Pada garis A1.A atau B1.B diukurkan tinggi langit-langit ruangan,
tinggi pintu dan semua ukuran lain ke arah vertikal yang diperlukan.
Dengan mengukurkan potongan garis p1, p2, p3 dan p4 pada garis A1-B1 dan
menghubungkannya dengan titik ukur yang sesuai (U1 atau U2) maka
titik-titik yang diinginkan akan ditemukan dan gambar perspektif ruangan
dapat digambarkan dalam kerangka bidang A1.B1.TL.C.
Perspektif Dua Titik Hilang Metode Garis Ukur
Seperti halnya pada metode titik ukur, pada metode ini letak garis AB,
tinggi cakrawala dan letak titik hilang ditetapkan terlebih dahulu
sesuai dengan kebutuhan.
Prinsip metode ini:
Dari titik yang ingin ditemukan dalam perspektif ditarik dua garis yang
masing-masing sejajar dengan dua dinding ruangan yang tergambar pada
denah. Kemudian titik-titik potong yang terjadi dengan garis AB
diproyeksikan ke garis tanah dan diteruskan ke titik hilang yang sesuai.
Titik potong kedua garis proyeksi ini adalah titik yang dicari dalam
gambar perspektif. Contoh: lihat konstruksi garis untuk menemukan titik C
pada gambar perspektif (=C1).
Titik L adalah ketinggian langit-langit ruangan, sedangkan titik P
adalah ketinggian pintu. Kedua ukuran ini dan ukuran lain ke arah
vertikal dapat diukurkan pada garis B1.L atau garis A1.A2.
Bidang A1.B1.L.A2 adalah bidang batas pandangan perspektif terhadap ruangan yang digambar.
3. Perspektif Tiga Titik Hilang
Perspektif tiga titik hilang sangat tidak biasa untuk digunakan pada
ilustrasi atau presentasi desain interior. Secara umum, perspektif tiga
titik hilang terbentuk dari dua titik hilang yang terletak di garis
cakrawala dan satu titik hilang tambahan yang terletak di atas atau di
bawah garis cakrawala, segaris lurus secara vertikal dengan titik
diagonal, sehingga bila ditarik garis berurutan dari ketiga titik hilang
tersebut akan membentuk segitiga sama sisi, yaitu segitiga yang
memiliki sudut yang sama, yaitu 60o (lihat gambar).
Penggunaan metode tiga titik hilang dapat menyebabkan distorsi yang
berlebihan karena hampir semua garis tertuju pada titik hilang-titik
hilang. Ini berarti dalam menggambarkan perspektif tiga titik hilang
membutuhkan kemampuan visualisasi yang sangat baik. Walaupun begitu,
perspektif tiga titik hilang masih dapat diukur, yaitu dengan
menggunakan titik diagonal yang berjumlah tiga buah yang terletak di
antara ketiga titik hilang (lihat gambar).
Perspektif tiga titik hilang biasanya digunakan pada benda-benda
arsitektural yang berukuran sangat besar, seperti gedung-gedung
bertingkat. Hasil yang ditampilkan perspektif tiga titik hilang biasa
disebut ‘penglihatan mata burung’ bila titik hilang berada di bawah
garis cakrawala, dan ‘penglihatan mata semut’ atau ‘penglihatan mata
kodok’ bila titik hilang berada di atas garis cakrawala.
J.HIASAN ORNAMEN
Ornamen dalam bahasa Latin mempunyai arti menghiasi. Dalam Ensiklopedia
Indonesia, ornamen dijelaskan sebagai setiap hiasan bergaya geometrik
atau yang lainnya; ornamen dibuat pada suatu bentuk dasar dari hasil
kerajinan tangan (perabot , pakaian) dan arsitektur. Ornamen merupakan
komponen produk seni yang ditambahkan atau sengaja di buat untuk tujuan
sebagai hiasan. Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit
menyangkut segi – segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindaahan
suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik, di samping itu dalam
ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud
tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup ( falsafah hidup )
dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang
diterapinya memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai
harapan-harapan yang tertentu pula.
Pada perkembangan – perkembangan lebih lanjut, pemanfaatan ornamen di
samping memiliki maksud – maksud tertentu dan pada waktu yang lebih
kekinian ( saat sekarang ) banyak penekannya hanya sekedar sebagai
penghias saja, dengan demikian ornamen betul-betul merupakan komponen
produk seni yang ditambahkan atau sengaja dibuat untuk tujuan sebagai
hiasan semata. Dengan demikian jelas bahwa tugas dan fungsi ornamen
adalah sebagai penghias suatu objek, dan apabila ornamen tersebut
diletakkan atau diterapkan pada benda lain akan memiliki nilai tambah
pada benda tersebut. Apakah akan menambah indah, antik, angker, cantik,
dan atau predikat yang lain lagi. Tentunya dalam cakupan yang sesuai
dengan bagaimana dan di mana suatu ornamen harus di gunakan.
Ternyata pengertiannya tidak semudah itu, sebab dalam ornamen menyangkut
masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Karena dalam
hubungannya perlu diuraikan tentang motif, atau tema maupun pola-pola
yang di kenakan pada benda-benda seni, bangunan, dan pada permukaan apa
saja tanpa memandang kepentingannya bagi struktur dan fungsinya.
Selanjutnya apabila diteliti lebih mendalam dari pembahasan di atas,
cakupan ornamen menjadi sangat luas. Karena sesuatu yang mempunyai tugas
menghiasi serta menambah nilai dari benda yang ditempatinya berarti
disebut sebagai ornamen.
Pengertian ini akan lebih menyulitkan dalam memahami apabila ingin
mengembangkannya, dan tidaklah sepenuhnya pengertian ornamen tidaklah
demikian, sebab ornamen memiliki ciri, sifat dan karakter yang sangat
khusus. Sehubungan dengan itu, bila dibandingkan persoalan-persoalan
berikut ini dalam sebuah kelompok ornamen, sebuah patung yang berdiri
sendiri bisa berubah menjadi suatu unit bila di letakkan di taman kota
atau ditempatkan pada pintu-pintu masuk gedung / bangunan. Begitu juga
seandainya sebuah lukisan yang di pasang pada dinding suatu
ruangan/ruang tamu beserta mebel-mebelnya yang begitu serasi, membuat
suasana ruangan tersebut menjadi lebih menarik dan indah. Dari uraian di
atas jelas fungsi patung, lukisan serta mebel-mebel adalah sebagai
hiasan pada taman kota, ruang tamu, maupun pintu gerbang, jadi dengan
demikian patung, lukisan, patung dan mebel tadi dapat diartikan sebagai
ornamen dari taman kota, ruang tamu maupun pintu gerbang tersebut. Namun
perlu di ketahui bahwa hal yang demikian itu bukanlah yang di maksud
dengan ornamen sesungguhnya, sebagai mana yang saya maksudkan. Contoh
lain, ada sebuah mebel yang di dalamnya terdapat ukiran-ukiran yang
melilit-lilit ke seluruh bagian mebel, atau ukirannya hanya pada
beberapa bagian saja. Dalam kasus ini mudah dijelaskan kedudukan ukiran
tadi, yaitu sebagai hiasan atau ornamen dari mebel tersebut. Sejalan
dengan itu, adalah sama persoalannya bila gelang, kalung, liontin di
anggap sebagai ornamen dari orang yang memakainya, padahal di sisi lain
benda-benda perhiasan tersebut juga terdapat ornamen yang menghiasinya.
Pengertian di atas agak cukup menyulitkan dalam menarik kesimpulan yang
memadai, terlebih lagi apabila dikaitkan dengan pengertian dekorasi.
Sebab arti dari dekorasi juga menghiasi, sekalipun demikian dapat di
pahami bahwa pada umumnya pengertian ornamen dengan dekorasi dalam
banyak hal terdapat kesamaan, namun tetap saja ada perbedaan-perbedaan
yang signifikan, karena dekorasi dalam banyak hal lebih menekankan pada
penerapan-penerapan yang bersifat khusus, misalnya dekorasi interior,
dekorasi panggung. Dalam menanggapi masalah itu, barangkali akan menjadi
lebih terbuka pemikiran kita apabila menyadari bahwa ornamen dapat
menjadi elemen atau unsur dekorasi, tetapi tidak untuk sebaliknya (
dekorasi sebagai unsur ornamen ). Oleh sebab itu pengertian ornament
akan bergantung dari sudut mana kita melihatnya, dan setiap orang bebas
menarik kesimpulan menurut sudut pandangnya.
Dalam membahas ornamen tentu tidak akan terlepas dari pola dan motif
karena pola dan motif merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
ornamen. Pola dalam bahasa Inggris di sebut “pattern”, H.W. Fowler dan
F.G Fowler pola disebut “decorative”design as executed on carpet, wall
paper, clots etc”, sedangkan Herbert Read menjelaskan pola sebagai
penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan tertentu. Dalam
ensiklopedia Indonesia, dijelaskan bahwa motiflah yang menjadi pangkal
tema dari suatu buah kesenian. Sejalan dari pendapat di atas kalau di
gambarkan, apabila ada garis lengkung ( hanya sebagai contoh) maka garis
tersebut disebut sebagai motif, yaitu motif garis lengkung, kalau garis
lengkung tadi diulang secara simetris, maka akan diperoleh gambar lain
yaitu gambar ke dua, merupakan sebuah pola ysng di dapat dengan
menggunakan motif garis lengkung tadi, selanjutnya apabila gambar ke dua
tadi motif dan di ulang-ulang menjadi gambar ke tiga, maka gambar
tersebut dapat di sebut sebagai pola atas motif yang ke dua tadi,
demikian seterusnya. Jadi dari satu jenis motif betapapun sederhananya,
sebagaimana garis lengkung yang dijadikan contoh tadi, setelah mengalami
pengulangan dapatlah diperoleh sebuah pola, bahkan tidak hanya sebuah
saja, tetapi akan bergantung pada kemungkinan kreativitas seseorang
dalam merangkainya. Selanjutnya apabila pola yang telah diperolehnya
tadi diterapkan atau dijadikan hiasan pada suatu benda, misalnya dengan
jalan di ukir ( contoh: pada sebuah kursi ), maka kedudukan pola tadi
ialah sebagai ornament dari kursi tersebut.Sampai di sini jelaslah bahwa
motiflah yang menjadi pangkal atau pokok dari suatu pola, di mana
setelah motif itu mengalami proses penyusunan dan dibuat secara
berulang-ulang akan diperoleh sebuah pola. Kemudian setelah pola tadi
diterapkan pada benda lain maka jadilah suatu ornamen.
K.MAESTRO
Dalam seni lukis, sang maestro sering dikaitkan dengan orang yang
benar-benar sangat memahami dan mempunyai pengalaman dalam bidang
melukis. Di Indonesia kerap disebut-sebut nama almarhum pelukis Affandi
sebagai maestro.
Tetapi bagaimana dengan pelukis kenamaan Indonesia lainnya seperti
Basuki Abdullah, Abdullah Suryobroto mungkin karena alirannya berbeda
dengan Affandi, jarang disebut-sebut sebagai maestro.
L.IMAJINASI
Imajinasi merupakan daya khayal seorang seniman. Suatu karya seni dapat
dinilai melalui imajinasi sang pencipta. Beragam ide maupun imajinasi
dapat dituangkan dalam karya seni lukis. Dengan imajinasi berbeda dari
soerang seniman melahirkan banyak aliran.
M.ADVERTISING
Satu rahasia terbesar dalam dunia periklanan. Seperti telah dijelaskan
bahwa periklanan adalah bisnis ide. Untuk masuk ke bidang ini, hal yang
paling utama adalah mempunyai cita rasa visual yang tinggi. Sebuah
bidang karya yang secara visual berantakan akan merusak sebuah konsep
yang kuat. Oleh karena itulah seorang pengarah seni diperlukan. Untuk
mengemas sebuah dagangan sehingga konsumen mau membelinya.
Secara akademis, ada beberapa jalan yang bisa diambil untuk mengasahnya.
Desain Grafis adalah pilihan yang paling umum. Di dalam seni grafis
dapat mempelajari teknik-teknik dasar grafis yang akan membantu kita
untuk memperindah karya mulai dari tipografi, teori warna hingga
komunikasi visual. Pilihan lain adalah Fotografi. Seorang pengarah seni
yang baik adalah seseorang yang mempunyai mata yang tajam secara visual.
Dia harus tahu teknik pencahayaan yang baik, tata letak yang rapi
(ataupun yang berantakan) dan tentunya bagaimana menggabungkan semua
elemen visual dalam sebuah karya. Itulah yang mengharuskan seorang
pengarah seni untuk menguasai minimal kedua bidang di atas. harus sangat
. Dalam arti kata, sewaktu membuat sebuah karya, dia harus sangat
teliti dalam setiap detilnya. Heading, kerning, leading dan ing-ing
lainnya. Itulah yang membuatnya bekerja semalaman sementara si penulis
naskah tidur di sofa ruang televise lantai 3.
N.SENI GRAFIS
Seni grafis adalah salah satu bidang seni rupa yang bergerak pada bidang
pencetakan, baik pencetakan yang berupa teknik manual maupun yang sudah
digital, diantara keduanya sama-sama grafis istilahnya namun dalam
takaran seni perlu dibahas lebih lanjut. Seni grafis secara kasar dapat
digolongkan ke dalam salah satu seni murni, hal ini didasarkan atas
tujuan dan fungsi yang dibawa, yaitu untuk memenuhi kepuasan atau untuk
mengekspresikan diri.
Perkembangan dunia percetakan tidak dapat dipungkiri telah berjalan
dengan cepat. Meski demikian secara dasar teknik-teknik yang
dipergunakan sama dengan berbagai teknik yang sudah lama digunakan
seperti relief print, intaglio print, dan sebagainya, hanya saja ada
beberapa aplikasi baru yang dapat digunakan dalam pembuatan seni grafis
yang tidak jarang hasil yang dicapai lebih memuaskan. Aplikasi tersebut
berupa pemanfaatan media komputerisasi sebagai sarana desain juga sarana
pemudah pencetakan melalui digital printing.
Pemanfaatan media komputeisasi ini merupakan pemicu awal munculnya
anggapan bahwa seni grafis mulai bergeser dari fungsi awalnya sebagai
seni murni menjadi fungsi seni terapan bersanding dengan seni kriya dan
desain. Anggapan pergeseran ini didasarkan pada tujuan pembutan karya
itu sendiri, dengan munculnya media komputer maka kemudahan dalam hal
pencapaian kuantitas yang diinginkan semakin menjanjikan sehingga
semakin menggiurkan para seniman grafis ( pada mulanya) untuk terjun
dalam dunia marketing. Selain dikuatkan oleh berbagai kemudahan tersebut
pergeseran juga didorong oleh kebutuhan hidup yang semakin pelik
disertai penyediaan peralatan untuk komputerisasi yang tidak murah.
Namun dalam hal ini tidak semuanya teknik grafis dapat dipukul rata
dengan komputerisasi secara absolut, ada tiga teknik dari 4 teknik yang
tidak dapat menggunakan teknik komputerisasi, yaitu teknik cetak tinggi,
cetak dalam, dan cetak datar. Adapun cetak sablon dapat diganti dengan
komputerisasi dikarenakan konsep dasar sablon adalah penciptaan karya 2 D
tanpa tekstur, dan tanpa degradasi yang detail yang kesemua itu dapat
dilakukan oleh komputer dengan mudah dan hasil yang lebih memuaskan
(memakai software pendukung seperti corel,adobe,auto cad,dsb)
Guru Besar Seni Grafis Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof Setiawan
Sabana, mengungkapkan,”berkembangnysa seni rupa, khususnya seni grafis,
tidak independen. Banyak faktor lain yang memengaruhi, terutama
infrastruktur atau teknik dan bahan dasar pembentuk media seni.
Setiawan menegaskan,” seni grafis “berhak” berkembang dan sejajar dengan
seni rupa lainnya. Seni tidak bisa dikotak-kotakkan dalam arus utama
tertentu. “Janganlah kita batasi dan persoalkan medianya. Yang penting,
isinya. Seni grafis yang konvensional sekalipun tidak bisa menutup diri
dari perubahan zaman. Kontemporerisasi menjadi pilihan. Sebab, sejatinya
negara ini memang tidak punya akar tradisi seni grafis. Kalau kita
terus mengacu ke Eropa, kapan kita akan mengejar,” ( Kompas, 20 Maret
2007). Sehingga dalam kaitannya dengan media yang dipakai dalam
pengungkapan kreatifitas seni grafis seharusnya tidak perlu
diperdebatkan, yang utama adalah seni grafis yang meng-indonesia.
Kajian singkat di atas adalah secarik pembahasan terkait muncullah
istilah seni murni dan seni terapan. Keduanya adalah sama-sama seni
hanya saja karena perbedaan tujuan dan perkembangan teknologilah istilah
tersebut muncul. Teknologi adalah ikon terpenting yang memunculkan
istilah tersebut. Teknologi adalah ikon modern, juga modernisasi.
Semakin canggih teknologi semakin modern, dan itulah modernisasi.
Modernisasi adalah sebuah upaya menyesuaikan kebiasaan dengan konstelasi
( gaya atau tren) dunia (Jim Supangkat). Konstelasi abad modern pada
awalnya didominasi pemikiran Eropa Barat dan Amerika. Namun dalam era
globalisasi, formasi konstelasi dunia ditentukan pola perkembangan
negara-negara maju. Kedua tahap itu pada kenyataannya mengakibatkan
sebuah penyeragaman dunia.
Seni grafis secara tidak langsung ( pada teknik tertentu) mulai menjamah
modernisasi ( seni grafis modern). Hal ini ditandai dengan munculnya
teknik-teknik kreatif baru sebagaimana Rolf Nesch (1893-1975), yang
mendapat pengakuan internasional untuk teknik grafis logam, dan artis
Sámi John Savio (1902-1938), dengan cetakan kayunya. Stanley Hayter
Atelier 17 di Paris, yang berspesialisasi dalam teknik mencetak banyak
warna hanya dengan menggunakan satu pelat.
Berbagai teknik baru mulai diperkenalkan pada tahun 1970, termasuk
cetakan di atas kain sutra, dan kebangkitan seni sketsa baik yang
mengandung arti kiasan maupun tidak. Tahun 1970 seringkali dianggap
sebagai jaman keemasan seni grafis, Nama yang patut diperhitungkan dalam
beberapa tahun terakhir termasuk Bjorn-Willy Mortensen (1941-1993), Per
Kleiva (b1933) dan Anders Kjær (1940).) Dengan munculnya seni grafis
modern maka ajang kreatifitas seniman garfis tidak dapat dibendung
karena konsep dasar seni modern adalah unsur kreatifitas untuk
memunculkan sesuatu yang baru. Sehingg a peluang kemunculan seni grafis
terapan semakin besar. Hal ini ditandai dengan kemunculan omzet digital
printing dan sablon yang digelar dalam pasar komersial. Padahal konsep
dasar seni (termasuk seni rupa- seni grafis) terkait estetika seni itu
sendiri terletak pada nilainya, sedang nilai itu tidak dapat dikurskan
dalam bentuk nominal secara pasti karena nilai itu adalah hal abstrak
yang tidak memiliki batasan. Kalaupun karya seni itu dapat dipasarkan
maka harga yang didapat adalah biaya operasional dan ongkos seniman atau
pencipta, bukan harga dari nilai yang dimiliki karya tersebut. Selain
hal itu terdapat manipulasi nilai karya seni grafis yang semakin
mempertajam munculnya seni grafis terapan yaitu karya yang disandarkan
pada permintaan pasar bukan pada kepuasan ekspresi pencipta.
Penggolongan Seni Grafis Berdasarkan Teknik Penggolongan
seni grafis berdasarkan teknik ini dikarenakan perbedaan acuan dan
persyaratan yang harus dimiliki masing-masing teknik. Adapun
teknik-teknik tersebut adalah teknik cetak tinggi ( Relief Print),
teknik seni cetak datar (Surface screen), teknik cetak dalam ( intaglio
print) dan tekni cetak saring( silk -screen).
O.POSTER
Poster adalah iklan warna berukuran besar yang dicetak pada selembar kertas dan ditempatkan pada panel, dinding atau ke jendela.
Berdasarkan segi penempatannya poster terbagi dua yaitu :
1. Poster Dalam, yaitu poster yang digunakan / diletakkan dalam suatu ruangan tertutup (indoor).
2. Poster Luar, yaitu poster yang ditempelkan atau diletakkan biasanya di luar ruangan (outdoor).
Berdasarkan Segi Tujuannya
1. Poster Sosial : untuk mendukung program-program yang direncanakan.
2. Poster Komersial : berisi pesan menawarkan produk untuk membujuk orang supaya mengambil keputusan / membeli.
P.KARIKATUR
Jenis gambar yang merupakan coretan-coretan yang menitik beratkan pada karakter obyeknya.
Gambar ilustrasi jenis ini bersifat ejekan, sindiran, dan kritikan yang dibuat lucu.
Q.SKETSA
Sketsa merupakan gambaran atau lukisan pendahuluan yang kasar ringan,
semata-mata garis besar atau belum selesai. Kerap kali sebagai percobaan
bahkan sebagai tanda untuk mengingat-ingat. Dalam penerapannya biasanya
sebagai catatan singkat tanpa bagian – bagian kecil yang mengemukakan
gagasan tertentu. Pada umumnya merupakan rencana kasar seperti permainan
ringan, mirip dengan musik ataupun artikel. Ini semua dalah hasil
ekspresi yang artistik. Pada umumnya menggunakan garis.
Seni sketsa sudah banyak dibicarakan orang lewat koran – koran atau
pameran tertentu. Dalam hal ini bukan merupakan barang baru. Akan tetapi
sudah merupakan tradisi sejak seni lukis ada.
Seni sketsa adalah seni yang pertama lahir, lihatlah lukisan – lukisan
kuno yang terdapat di gua-gua Altamira di Perancis Selatan, demikian
juga pada gua – gua Leang – Leang Sulawesi Selatan dan gua Abba di Irian
Barat merupakan garis sketsa yang magis.
Pendapat ini diperkuat lagi dengan pendapat seorang kritikus terkenal
Herbert Read berkata “Sesungguhnya dari libatan historis, jenis seni
rupa yang pertama adalah jenis senirupa dari gua-gua, bermula dari
garis-garis kontur. Seni rupa bertolak dari keinginan untuk
menggaris-garis. Demikian juga yang terdapat pada anak-anak.
Seni rupa dibuat demi pemuasan pribadi seniman merupakan kesan dari
karakteristik hidup dan gerak melalui media yang sangat sederhana,
bahkan tanpa persiapan. Terdiri dari bahan kertas dan semua jenis tinta
hitam dengan alat-alat pena, kuas, bambu, lidi yang disesuaikan dengan
kebutuhan teknis.
Dewasa ini dengan kemajuan ilmu pengetahuan serta adanya teknologi dari
hasil-hasil industri, memungkinkan timbul bahan-bahan baru yang dapat
mengembangkan seni sketsa.
Menurut Kusnadi, seorang kritikus dan pelukis, sketsa dapat dibedakan
dua hal. Pertama sketsa yang berdiri sendiri, atau yang biasa disebut
seni murni. Ini semata-mata merupakan seni sketsa, sedangkan sketsa
“Voor Studi” dibuat berdasarkan sketsa. Ini merupakan rencana-rencana,
bagan yang harus disempurnakan, misalnya dalam menggambar model atau
desain. Sebelum dikerjakan harus dibuat rencananya seperti gambar
arsitektur.
Bila kita amati terdapat garis-garis sketsa yang tegas dan jelas. Di
Indonesia dapat kita lihat pada pelukis Affandi dan Sudjojono bahkan
seorang Affandi tak suka kehilangan sketsanya karena sangat beriwayat,
mengandung makna vitalitas dan kegairahan.
Perkembangan lebih lanjut dalam seni lukis anak-anak, misalnya sketsa
banyak kita jumpai pada lukisan mereka dengan keluwesan dan tanpa
pretensi apa-apa, kecuali menggaris secara spontan. Garis merupakan alat
yang vital sebagai ungkapan kesan imajinasinya. Sebagai sarana studi
skill atau keterampilan dalam organ-organ formal dan non formal
education kita, sketsa sangat penting.
Ternyata sketsa merupakan seni garis yang sangat sensitif dan sangat
sederhana, sebagai sarana yang paling singkat dan abstrak untuk
menggambarkan suatu obyek tanpa maksud tujuan.
R.SENI ILUSTRASI
lustrasi dalam bahasa Inggris disebut dengan Illustration.
Dalam bahasa latin adalah illustrare yang berarti menjelaskan atau
menerangkan sesuatu. Dalam seni rupa illustrasi dipergunakan untuk
memperjelas suatu cerita atau artikel dengan gambar – gambar. Oleh
karena itu dalam menggambar seni ilustrasi di samping mempunyai daya
tarik, gambar ilustrasi juga harus jelas, sederhana, mudah dimengerti,
dan dapat mewakili isi cerita yang terkandung di dalam cerita atau
artikel.
S.KESATUAN
Kesatuan merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat
penting. Tidak adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat
karya tersebut terlihat cerai-berai, kacau-balau yang mengakibatkan
karya tersebut tidak nyaman dipandang. Prinsip ini sesungguhnya adalah
prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai
hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.
T.KESEIMBANGAN
Keseimbangan dalam karya seni rupa adalah kesamaan dari unsur – unsur
yang berlawanan tetapi saling memerlukan karena dapat menciptakan satu
kesatuan. Ada beberapa pola dalam menentukan keseimbangan, yaitu:
1) Keseimbangan Simetris yaitu menggambarkan dua bentuk, ukuran dan
jarak yang sama dalam sebuah komposisi
2) Keseimbangan asimetris yaitui menggambarkan sebuah komposisi
yang bentuk. Ukuran dan jaraknya tidak sama antara satu dengan
yang lainnya
3) Keseimbangan segi tiga yaitu menggambarkan sebuah komposisi yang
mempunyai /mengesankansegitiga
4) Keseimbangan sentral yaitu menggambarkan sebuah komposisi yang
memusat di tengah – tengah (berpusat di suatu titik)
U.OPTIK ART
Victor Vasarely (1906-1997), seniman Perancis kelahiran Hungaria,
dikenal karena karya-karya abstrak-geometrisnya yang habis-habisan
memanfaatkan susunan bentuk geometris, nada dan warna, untuk
menghasilkan ilusi visual yang mengagumkan. Karya-karyanya memberi
inspirasi bagi sejumlah seniman lain untuk mengembangkan pendekatan
ilusi visual yang kemudian dikenal dengan istilah Optic Art.
V.SUREALIS
Aliran surealis mulai dikenal luas sejak tahun 1936. Surealisme
merupakan aliran dan gerakan yang sangat “Prancis”, saat itu dilahirkan
gerakan surealis yang dikenal Manifesto Surealisme atas prakarsa Andre
Berenton. Gerakan ini pada dasarnya adalah gerakan kesusastraan yang
mengekspresikan statement pemberontakan terhadap kaum borjuis (kaum
kelas atas) Prancis. Saat itu seni dikonotasikan sebagai objek yang
harus berselera tinggi dan hanya diciptakan untuk memenuhi selera dan
keinginan para bangsawan. Gerakan ini mengekspresikan ketidaksetujuan
mereka secara verbal dan melalui tulisan. Aliran ini juga menjelaskan
prinsip otomatisme murni, suatu ekspresi dari bawah alam sadar manusia
atau lebih menyerupai sebuah mimpi. Surealisme juga dikenal sebagai
lukisan mimpi yang didominasi dengan teknik ilusi. Ali
ran ini bukan rekaman dari sebuah mimpi, melainkan menyerupai sebuah
perjalanan ke suatu ruang dan dimensi seperti seseorang yang memasuki
sebuah mimpi.
W.NATURALIS
Naturalisme yaitu suatu bentuk karya seni lukis (seni rupa) berciri
seniman berusaha melukiskan segala sesuatu sesuai dengan natural atau
alam nyata, artinya disesuaikan dengan tangkapan mata seniman. Supaya
lukisan yang dibuat benar – benar mirip atau persis dengan nyata, maka
susunan, perbandingan, perspektif, tekstur, pewarnaan serta gelap terang
dikerjakan seteliti mungkin, setepat – setepatnya. Di dalam seni rupa
adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam.
Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada
abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme.
Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker,
yang lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan
ini. Salah satu bagian penting dari gerakan naturalis adalah pandangan
Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah ditimbulkan manusia
terhadap alam.
X.IMPERS / EKSPRESI ONISME
Impresionisme adalah suatu bentuk karya seni lukis yang menghadirkan
kesan – kesan. Seniman – seniman impresionis hanya melukiskan cahaya
yang dipantulkan ke mata, kabur, tanpa fokus atau hanya merupakan kesan
suatu objek. Aliran ini timbul sebagai akibat ketidakpuasan terhadap
cara-cara melukis seniman akademik (sebutan untuk seniman-seniman
realisme cahaya dan bayangan) yang selalu melukis dalam studio (Soegeng
Toekio dkk, 1987:38).
Seniman-seniman penganut aliran impresionis hanya berpendapat bahwa
cahaya dan bayangan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubah sesuai
dengan gerakan sumber cahaya (matahari), oleh karena itu mereka tidak
mau melukis di dalam studio. Mereka lari ke jalan raya, ke ladang, tepi
sungai dan sebagainya. Hasil yang perlu dicatat dari aliran ini ialah
dilukiskannya hal-hal yang belum pernah dilukiskan oleh seniman-seniman
akademik, misalnya mereka melukiskan kabut-kabut, hujan badai,
fatamorgana, gerakan-gerakan satu objek dan lain-lain. Warna-warna yang
dipakainyapun menjadi semakin cerah dibandingkan dengan warna yang
digunakan seniman akademik yang semakin gelap (Soegeng Toekio dkk,
1987:39).
Corak dekoratif telah hadir dalam bentuk-bentuk seni asli Indonesia.
Hal ini bisa dilihat dari peninggalan hasil seni budaya tempo dulu,
seperti totem Papua, rumah Gorga Batak, ataupun corak batik lurik Jawa.
Corak dekoratif tidak tampil secara murni. Dekoratif bisa menjadi
maksimal dan bisa menjadi minimal. Dekoratif bisa menjelma dalam unsur
komposisi secara teknik, ”bumbu dekorasi” sebuah objek pokok yang bisa
saja mengarah kepada realis, surealis, atau bahkan abstrak.
Dekoratif juga bisa meliputi elemen yang mendukung, dan tidak selalu menjadi pokok dalam sebuah karya. (Herry Dim___)
Y.DEKORATIF
Corak dekoratif telah hadir dalam bentuk-bentuk seni asli Indonesia. Hal
ini bisa dilihat dari peninggalan hasil seni budaya tempo dulu, seperti
totem Papua, rumah Gorga Batak, ataupun corak batik lurik Jawa.
Corak dekoratif tidak tampil secara murni. Dekoratif bisa menjadi
maksimal dan bisa menjadi minimal. Dekoratif bisa menjelma dalam unsur
komposisi secara teknik, ”bumbu dekorasi” sebuah objek pokok yang bisa
saja mengarah kepada realis, surealis, atau bahkan abstrak.
Dekoratif juga bisa meliputi elemen yang mendukung, dan tidak selalu menjadi pokok dalam sebuah karya. (Herry Dim___)
Z.MURAL
Mural adalah cara menggambar atau melukis diatas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya.
Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan
kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural
lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan
cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang
dapat menghasilkan gambar.
1.5.5.7.PENUTUP
SIMPULAN
Seni merupakan hal yang indah dan akan hidup di tengah – tengah masyarakat. Seni akan berkembang selama masyarakat ada.
Dengan keanekaragaman aliran yang ada, seniman mampu berkreasi sesuai dengan aliran maupun daya imajinasi.
Secara umum, factor – factor dari luar negeri sangat mempengaruhi dunia
seni di Indonesia. Seperti gejolak seni modern yang mengutamakan
kepentingan individualis.
SARAN
1.para seniman hendaknya memperhatikan dunia seni baik dalam negeri maupun luar negeri untuk membuka wawasan.
2.dalam berkarya, seniman hendakya memperhatikan nilai – nilai seta norma – norma budaya dalam membuat karya seni.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar